Memperbincangkan Antropologi Indonesia dan Asia Tenggara

Peluncuran dan Diskusi Buku Southeast Asian Anthropologies: National Traditions and Transnational Practices

Perpustakaan Universitas Indonesia berkolaborasi dengan Departemen dan Unit Kajian Antropologi bersama-sama dengan Manajer Riset, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian Masyrakat serta Miriam Budiardjo Resource Center, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia mengadakan peluncuran dan diskusi buku berjudul Southeast Asia Anthropologies: National Traditions and Transnational Practices. Buku ini diterbitkan oleh National University of Singapore (NUS) Press dan dieditori oleh Eric C. Thompson, Ph. D, seorang profesor di NUS dan Vineeta Sinha, seorang Kaprodi di universitas yang sama. Secara garis besar, buku ini memuat setidaknya sebelas tulisan dari masing-masing negara di Asia untuk menggambarkan bagaimana pertumbuhan, perkembangan, serta posisi antropologi sebagai suatu disiplin ilmu di negara-negara tersebut dan di Asia Tenggara. Lebih jauh lagi, buku tersebut membicarakan posisi antropologi dan karakteristik antropologi itu sendiri di Asia Tenggara dan di dunia yang lebih luas.

Sebenarnya, artikel-artikel ini merupakan artikel-artikel yang pernah disampaikan di suatu konferensi dan workshop di Jepang mengenai antropologi di Asia Tenggara pada tahun 2008. Salah satu tulisan yang dimuat dalam buku tersebut ditulis oleh Guru Besar Antropologi FISIP UI, Prof. Yunita T. Winarto dan koleganya yang juga merupakan antropolog dari UI, Iwan M. Pirous, M. A dan berjudul Boundaries and Traditions of Indonesian Anthropologie. Tulisan ini secara rinci menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan serta karakteristik antropologi Indonesia di kancah Asia Tenggara. Menurut Iwan Pirous dalam paparan singkatnya, apakah karakteristik antropologi Indonesia yang cenderung mempelajari diri sendiri (bangsa Indonesia) meurpakan suatu keunggulan atau sesuatu yang perlu dikritisi bersama.

Acara dibuka oleh Dekan FISIP UI dan Kepala Perpustakaan Universitas Indonesia dan dilanjutkan dengan pengantar diskusi oleh Prof. Yunita Winarto serta pemaparan singkat isi buku oleh Eric. Thompson selaku editor. Hadir sebagai diskusan adalah Dave Lumenta Ph. D dari Departemen Antropologi UI dan Dr. Selly Riawanti dari Departemen Antropologi Universitas Padjajaran. Dave menceritakan pengelamannya dalam meneliti “yang liyan” di perbatasan Indonesia-Malaysia. Dari situ dia merefleksikan dalam sebuah pertanyaan: apa sebenarnya arti menjadi antropolog Asia Tenggara? Dave memberikan perhatiannya pada persoalan batas-batas dan paradigma negara dalam mendalami kajian-kajian sosial budaya yang pelru dikritisi. Sementara itu, Selly Riawanti menyoroti artikel yang ditulis oleh Prof. Yunita Winarto bersama Iwan Pirous mengenai antropologi Indonesia. Sejauh ini antropologi Indonesia berkembang sesuai spesifikasi keilmuan dan berbasis kedaerahan drai masing-masing departemen. Dalam acara ini hadir pula antropolog senior, Prof. Amri Marzali. Dalam acara yang dipandu oleh moderator, Irwan Martua Hidayana, Prof. Amri mengatakana bahwa kita harus lebih meluaskan pandangan kita untuk lebih memajukan antropologi di Indonesia.

%d bloggers like this: